| Category: | Books |
| Genre: | Literature & Fiction |
| Author: | William Faulkner, Ernest Hemmingway, dll |

Beberapa
buku petualangan mencari harta karun karangan Enyd Blyton mengajarkanku
satu hal; harta karun terletak di tempat tersembunyi. Jadi, sewaktu di
Perpustakaan Kota Yogyakarta, aku menuju ke rak bagian sastra bagian
'tersembunyi'; gelap, rak bagian bawah, dan agak terlupakan. Dan memang
... aku menemu harta karun!
Buku Antologi Cerpen Nobel ini
berisi cerpen-cerpen dari para penulis dari berbagai belahan dunia yang
mendapatkan penghargaan Nobel atas tulisan (Nobel Prize for Literature)
mereka. Terekam selama 10 dasawarsa--yaitu selama 100 tahun (1901 -
2000).
Ada 21 cerpen dengan tahun-tahun yang berbeda saat mendapatkan penghargaan Nobel. Beberapanya:
1. Knut Hamsun - Malam yang Tak Terlupakan (Nobel Prize for Literature 1920)
Di
sebuah malam, seorang perempuan dalam pakaian berkabung, sekitar 22
atau 23 tahun, yang bercinta dengan laki-laki asing. Saat pagi, si
laki-laki melihat mayat seorang laki-laki di peti jenazah dalam
keadaan; berpakaian putih, cambang dan jenggot kelabu, lutut kurus
menonjol seperti tinju yang terkepal, dan mukanya pucat mengerikan.
Setelah
pulang ke rumah, laki-laki itu segera membuka surat kabar harian dan
mendapati sebuah judul berita; Suamiku meninggal hari ini, setelah
berbulan-bulan sakit. Umurnya 43 tahun.
Sebuah kesimpulan muncul di kepala laki-laki itu.
2. Anatole France - Lusifer (Nobel Prize for Literature 1921).
Seorang
pelukis, Spinello Spinelly, yang termahsyur pada saat mudanya, ia
banyak membikin banyak karya agung, resah saat menghabiskan masa tuanya
di Arezzo. Maka ia membikin lagi sebuah lukisan dengan semangat luar
biasa. Berkali-kali ia membaca ayat-ayat kitab suci, dipelajari secara
mendalam setiap bari dan kata. Hingga akhirnya lukisannya selesai;
Malaikat Mikhail melawan naga dan sang Lusifer (pangeran para setan)
dengan gambar wajah yang begitu seram, dan dipajang di atas altar utama
gereja.
Suatu malam, sang pelukis bermimpi didatangi sang
Lusifer yang protes; memangnya pelukis pernah melihat wajah asli sang
Lusifer, memangnya si pelukis tahu seluruh dosa-dosanya, dan apakah
Spinello Spinelli tahu bahwa dengan melukis Lusifer dengan begitu buruk
ia sama dengan menghina Tuhan. Saat terbangun, Spinello memutuskan
untuk mengubah lukisan wajah sang Lusifer seperti yang ia lihat dalam
mimpi. Tapi ....
3. George Benard Shaw - Kaisar dan Gadis Kecil (Nobel Prize for Literature 1925).
Suatu
malam, pada sebuah masa perang antara Inggris - Prancis melawan Jerman,
seorang kaisar Jerman bertemu dengan seorang gadis kecil yang berjalan
kemana-mana membawa panci kaleng berisi air. "Setiap malam aku keluar
membawa air untuk yang luka-luka, karena ayah pernah selama 5 malam tak
ada yang menolong dan sangat kehausan." Si gadis kecil bercerita bahwa
dusun mereka telah dibom Jerman, lalu dibom Prancis, lalu oleh tentara
Inggris hingga akhirnya ia tak lagi memiliki tempat tinggal.
"Ich habe es nicht gewollf," kata sang Kaisar. "Bukan salahku."
Hingga
kemudian sebuah granat meledak dan mencerai berai tubuh si gadis kecil.
Sang Kaisar merasa kesepian dan memaki dua perwiranya, "Kalian semua
sekumpulan orang gila!" Dan itu kutukan yang mengerikan.
4. John Galsworthy - Salta Pro Nobis (Sebuah Variasi) (Nobel Prize for Literature 1932).
Seorang
penari yang didakwa sebagai mata-mata, karena memancing rahasia dari
Prancis untuk dijual pada pihak Jerman di Spanyol, akan ditembak mati.
Untuk itu ia dititipkan ke sebuah biara. Malam terakhir sebelum
dieksekusi, ia diijinkan menari di refektori (ruang makan bersama di
biara) oleh Ibu Biara.
Pada tariannya yang sungguh-sungguh,
tarian Spanyol, Polandia, dan yang penuh semangat lainnya, mengingatkan
pada masa lalu yang berisi napas-napas kegembiraan si Ibu Biara,
sebelum ia menyerahkan jiwa pada biara.
Keesokan hari setelah
terdengar tembakan eksekusi si penari, seorang suster tidak dapat
ditemukan lagi. Dua hari kemudian datang sebuah surat: maafkan aku,
Ibu. Aku kembali lagi ke kehidupan.
Hidup di dalam biara; hidup dalam kematian?
5. Ivan Bunin - Burung Gagak (Nobel Prize for Literature 1933).
Suatu
hari, seorang gadis muda dari keluarga miskin datang ke rumah untuk
membantu merawat anak bungsu si ayah. Hari demi hari, hingga si aku,
seorang anak laki-laki, jatuh cinta dan sering melakukan ciuman-ciuman
panjang dengan gadis itu. Sampai sang ayah, pada suatu musim panas,
akhirnya memergoki, dan 'mengusir' si anak laki-laki itu ke Petersburgh
untuk bekerja dan tidak lagi menemui gadis itu lagi--atau hak warisnya
akan dicabut.
Pada musim dingin di tahun yang sama, si anak
mendapat kabar bahwa ayahnya telah pindah ke Petersburgh bersama 'istri
mudanya yang memesona'. Suatu malam saat menunggu sebuah pertunjukan,
si anak laki-laki melihat ayah dan istrinya--dan ia merasa seperti
kenal dengan 'istri muda sang ayah yang memesona' itu.
Antologi Cerpen Nobel, Bentang, 2009. Koleksi Perpustakaan Kota Yogyakarta.