Friday, June 1, 2012

[Belum Lolos] Pengumuman Hasil Seleksi UWRF 2012

From: Kadek Purnami

Ubud, 31 Mei 2012
 
Penulis Yang terhormat,
Terima kasih yang sebesarnya kami ucapkan kepada Anda yang telah berpartisipasi dalam mengirimkan karya untuk seleksi penulis yang mewakili Indonesia dalam ajang perhelatan festival sastra Ubud Writers & Readers Festival 2012.
 
Setelah melalui tahap kurasi dari 279 penulis yang mengirimkan karya, kami memilih 15 penulis yang kami undang untuk mengisi acara festival. Kuota tersebut dikarenakan keterbatasan yang kami miliki. 

Melalui surat ini kami ingin menyampaikan permohonan maaf, bahwa Anda belum terpilih sebagai salah satu dari 15 penulis Indonesia yang diundang untuk menghadiri Ubud Writers and Readers Festival (UWRF)  pada 3-7 Oktober 2012 mendatang.
Pemilihan serta penetapan 15 penulis yang diundang telah dilakukan oleh Dewan Kurator UWRF 2012 pada pertemuannya di Denpasar, Bali, 28 Mei yang lalu. 

Bersama ini kami lampirkan nama 15 kawan-kawan penulis yg berhasil lolos yang disertai catatan Dewan Kurator.

Semoga kabar ini tidak memupus semangat Anda untuk terus mengikuti proses seleksi UWRF di tahun-tahun mendatang. Karena kesempatan selalu terbuka bagi Anda.

Harapan kami, tentu Anda tetap dapat berpartisipasi sebagai hadirin dalam festival ini. Jika Anda ingin hadir dengan biaya sendiri dan membutuhkan surat rekomendasi undangan dari panitia silahkan menghubungi saya melalui email. 

Kami selaku panitia tetap mohon dukungan kawan-kawan penulis agar festival ini dapat berlangsung dengan baik dan bermanfaat bagi kita semua. 

Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih telah turut serta mendukung Ubud Writers & Readers Festvial.

Demikian pemberitahuan ini saya sampaikan atas perhatiannya saya ucapkan banyak terima kasih.
 
Hormat saya,
kadek sign
 
Kadek Purnami
Community Development Manager
P : +62 361 7808932
F : +62 361 977408
M: 081 23 871 871
E :kadek.purnami@ubudwritersfestival.com
W: www.ubudwritersfestival.com

Dates for this year October 3 - 7, 2012
Theme : Bumi Manusia
 
"One of the six best literary festivals in the world" Harper's Bazaar, UK


***



Belum jadi ke Bali (gratis & disangoni).. 

Friday, May 11, 2012

Antologi Cerpen Nobel



ReviewReviewReviewReview
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:William Faulkner, Ernest Hemmingway, dll





Beberapa buku petualangan mencari harta karun karangan Enyd Blyton mengajarkanku satu hal; harta karun terletak di tempat tersembunyi. Jadi, sewaktu di Perpustakaan Kota Yogyakarta, aku menuju ke rak bagian sastra bagian 'tersembunyi'; gelap, rak bagian bawah, dan agak terlupakan. Dan memang ... aku menemu harta karun!

Buku Antologi Cerpen Nobel ini berisi cerpen-cerpen dari para penulis dari berbagai belahan dunia yang mendapatkan penghargaan Nobel atas tulisan (Nobel Prize for Literature) mereka. Terekam selama 10 dasawarsa--yaitu selama 100 tahun (1901 - 2000).

Ada 21 cerpen dengan tahun-tahun yang berbeda saat mendapatkan penghargaan Nobel. Beberapanya:


1. Knut Hamsun - Malam yang Tak Terlupakan (Nobel Prize for Literature 1920)

 
Di sebuah malam, seorang perempuan dalam pakaian berkabung, sekitar 22 atau 23 tahun, yang bercinta dengan laki-laki asing. Saat pagi, si laki-laki melihat mayat seorang laki-laki di peti jenazah dalam keadaan; berpakaian putih, cambang dan jenggot kelabu, lutut kurus menonjol seperti tinju yang terkepal, dan mukanya pucat mengerikan.

Setelah pulang ke rumah, laki-laki itu segera membuka surat kabar harian dan mendapati sebuah judul berita; Suamiku meninggal hari ini, setelah berbulan-bulan sakit. Umurnya 43 tahun.

Sebuah kesimpulan muncul di kepala laki-laki itu.


2. Anatole France - Lusifer (Nobel Prize for Literature 1921).

 
Seorang pelukis, Spinello Spinelly, yang termahsyur pada saat mudanya, ia banyak membikin banyak karya agung, resah saat menghabiskan masa tuanya di Arezzo. Maka ia membikin lagi sebuah lukisan dengan semangat luar biasa. Berkali-kali ia membaca ayat-ayat kitab suci, dipelajari secara mendalam setiap bari dan kata. Hingga akhirnya lukisannya selesai; Malaikat Mikhail melawan naga dan sang Lusifer (pangeran para setan) dengan gambar wajah yang begitu seram, dan dipajang di atas altar utama gereja.

Suatu malam, sang pelukis bermimpi didatangi sang Lusifer yang protes; memangnya pelukis pernah melihat wajah asli sang Lusifer, memangnya si pelukis tahu seluruh dosa-dosanya, dan apakah Spinello Spinelli tahu bahwa dengan melukis Lusifer dengan begitu buruk ia sama dengan menghina Tuhan. Saat terbangun, Spinello memutuskan untuk mengubah lukisan wajah sang Lusifer seperti yang ia lihat dalam mimpi. Tapi ....


3. George Benard Shaw - Kaisar dan Gadis Kecil (Nobel Prize for Literature 1925).

 
Suatu malam, pada sebuah masa perang antara Inggris - Prancis melawan Jerman, seorang kaisar Jerman bertemu dengan seorang gadis kecil yang berjalan kemana-mana membawa panci kaleng berisi air. "Setiap malam aku keluar membawa air untuk yang luka-luka, karena ayah pernah selama 5 malam tak ada yang menolong dan sangat kehausan." Si gadis kecil bercerita bahwa dusun mereka telah dibom Jerman, lalu dibom Prancis, lalu oleh tentara Inggris hingga akhirnya ia tak lagi memiliki tempat tinggal.

"Ich habe es nicht gewollf," kata sang Kaisar. "Bukan salahku."

Hingga kemudian sebuah granat meledak dan mencerai berai tubuh si gadis kecil. Sang Kaisar merasa kesepian dan memaki dua perwiranya, "Kalian semua sekumpulan orang gila!" Dan itu kutukan yang mengerikan.


4. John Galsworthy - Salta Pro Nobis (Sebuah Variasi) (Nobel Prize for Literature 1932).

 
Seorang penari yang didakwa sebagai mata-mata, karena memancing rahasia dari Prancis untuk dijual pada pihak Jerman di Spanyol, akan ditembak mati. Untuk itu ia dititipkan ke sebuah biara. Malam terakhir sebelum dieksekusi, ia diijinkan menari di refektori (ruang makan bersama di biara) oleh Ibu Biara.

Pada tariannya yang sungguh-sungguh, tarian Spanyol, Polandia, dan yang penuh semangat lainnya, mengingatkan pada masa lalu yang berisi napas-napas kegembiraan si Ibu Biara, sebelum ia menyerahkan jiwa pada biara.

Keesokan hari setelah terdengar tembakan eksekusi si penari, seorang suster tidak dapat ditemukan lagi. Dua hari kemudian datang sebuah surat: maafkan aku, Ibu. Aku kembali lagi ke kehidupan.

Hidup di dalam biara; hidup dalam kematian?


5. Ivan Bunin - Burung Gagak (Nobel Prize for Literature 1933).

 
Suatu hari, seorang gadis muda dari keluarga miskin datang ke rumah untuk membantu merawat anak bungsu si ayah. Hari demi hari, hingga si aku, seorang anak laki-laki, jatuh cinta dan sering melakukan ciuman-ciuman panjang dengan gadis itu. Sampai sang ayah, pada suatu musim panas, akhirnya memergoki, dan 'mengusir' si anak laki-laki itu ke Petersburgh untuk bekerja dan tidak lagi menemui gadis itu lagi--atau hak warisnya akan dicabut.

Pada musim dingin di tahun yang sama, si anak mendapat kabar bahwa ayahnya telah pindah ke Petersburgh bersama 'istri mudanya yang memesona'. Suatu malam saat menunggu sebuah pertunjukan, si anak laki-laki melihat ayah dan istrinya--dan ia merasa seperti kenal dengan 'istri muda sang ayah yang memesona' itu.



Antologi Cerpen Nobel, Bentang, 2009. Koleksi Perpustakaan Kota Yogyakarta.  



Tuesday, May 8, 2012

Cheers


Hanya pada saat mabuk ia ingat ajaran agama. "Jangan pernah ... gunakan tangan kiri." Ia mengangkat botol dan menenggak bir dalam genggaman tangan kanan.

Ekspresi wajah dan mulutnya mengeriyut menahan pahit. "Tuhan bilang ... teman setan ... tangan kiri." Ia cekikikan. "Kau pernah mabuk?"

"Hanya mabuk cinta."

"Jangan mengejekku!" sergahnya dalam nada tinggi. Tapi lalu ia terkekeh geli. Bahunya bergoncang-goncang. Mukanya memerah. "Pe-ndu-sta." Dan kembali cekikikan.

"Oh, ya Tuhan." Tiba-tiba ia menegakkan punggung. Menata rapi dua botol dingin (satu masih berisi penuh, satu tinggal separuh) dan gelas dalam satu garis lurus. Ia menggoyang jari dan bilang, "tut, tut, tut, jes, jes, jes." Lalu menunduk dan memejam.

"Apa yang kau lakukan?" Ia tidak menjawab.

"Apa kau sudah makan malam sebelum ini?"

Kedua telapak tangannya saling memeluk dan didekatkan dada. Khusuk sekali.

"Kau mabuk terlalu cepat."

Lama diam, akhirnya ia membuka mata. "Jangan berisik."

"Apa yang kau lakukan?"

"Aku ... ber-do-a." Ia kembali memejam dan kembali khusuk. "Tuhan, berkati minuman ini. Aku harus mabuk. Perempuan di hadapanku baru saja menolakku. Ia tidak ingin menikah denganku."

Ia membuka mata, menuang bir dalam gelas. Beberapanya sempat tumpah. "Kenyataan hidup itu ... pahit." Ia mengangkat gelas. "Cheers."


---


Tuesday, May 1, 2012

Pembelian "Pukul Sebelas Malam"

 
 
Buku “Pukul Sebelas Malam” ini diterbitkan indie (self publishing) dan menggunakan sistem cetak Print by Order (cetak berdasar pesanan—atau umum disebut POD). Proses cetak 7 hari. Baru kemudian buku dikirim ke alamat pemesan.


Harga buku Rp38.000,00 (belum termasuk ongkos kirim).



Untuk pembelian bisa melalui komen di jurnal ini, atau sms ke 0898 3400 272.


Trims! (:
 
 
 
 

[Review] Pukul 11 Malam: Membingkai Rasa Kehilangan - Restu Dessy

 
 
 
11 cerita pendek yang terkumpul dalam buku Pukul 11 Malam, sesuai dengan prediksi saya... Menakjubkan. Membuat saya terpukau oleh kepiawaian penulisnya mengolah cerita yang mampu menggiring pembaca -khususnya saya- untuk larut dalam setiap episode yang dialami oleh tokoh utama.

Tidak banyak penulis fiksi Indonesia yang dapat membuat saya terkesan. Baik itu oleh isi cerita, kecerdasan penulis dalam bercerita, bahkan lebih jauh lagi oleh pengetahuan yang ditunjukkan penulis dalam ceritanya. Helvi Tiana Rosa dan E.S. Ito merupakan dua penulis fiksi Indonesia yang karyanya membekas di hati saya. Saat ini daftar itu bertambah satu nama lagi, Desi Puspitasari dengan Pukul 11 Malam-nya.

Ada beberapa poin keunggulan yang dimiliki oleh Desi Puspitasari yang dia perlihatkan dalam kumpulan cerpennya ini. Salah satu yang menjadi perhatian saya adalah kemampuannya mendeskripsikan setiap detil dalam cerita sehingga saya seakan hadir menemani Katja Heinenmann di kedainya, mengenal dia dengan baik, dan merasakan kesedihannya saat kehilangan pemuda yang selalu ia tunggu di kedainya. Desi Puspitasari mampu memenuhi apa yang menjadi kriteria penulisan teks deskriptif yang baik, yaitu tidak hanya menceritakan sesuatu namun juga dapat menunjukkan sesuatu itu. Selain itu juga disebutkan bahwa detil pada cerita mampu memberikan kesan mendalam terhadap pembaca, dan Pukul 11 Malam adalah kumpulan cerita yang memuat dengan sempurna setiap detil pada episode-episode cerita. Saya dapat dengan jelas memvisualisasikan suasana bar tempat Ros bekerja dan semua sensasi yang ada di dalamnya pada benak saya saat membaca ceritanya, 

Keunggulan lain Desi Puspitasari adalah pada variasi setting cerita dan kekuatan setiap tokohnya. Walau sebagian besar cerita ini berkisah mengenai kehilangan, namun masing-masing tokoh memiliki latar belakang warna cerita yang berbeda sehingga memberikan efek sensasi yang berbeda pula bagi saya. Setiap tokoh dalam cerita-cerita ini seperti bercerita langsung pada saya tentang dia yang kehilangan Ma-nya atau seorang perempuan yang kehilangan pacarnya dibalik tumpukan buku-buku. 

Tempat yang melatarbelakangi setiap cerita membawa suasana tersendiri dan mencerminkan kehebatan penulisnya, karena konon katanya dia sendiri belum pernah menyambangi tempat-tempat tersebut. Desi telah berhasil membawa saya berkeliling benua Eropa. Saya dapat terbawa ke dinginnya Jerman, suasana mencekam di Italia, bar-bar dan kedai minum di negara yang nun jauh disana hingga jembatan jazz yang romantis walau kembali bercerita tentang kepedihan kehilangan.

Overall, buku ini layak direkomendasikan untuk dinikmati oleh pecinta cerita berkualitas. 

Selamat untuk sahabat saya, Desi Puspitasari :)
 
 
 
 
 

Reviews of "Pukul Sebelas Malam" by Reader Friends - on Goodreads

 

's review
Apr 25, 12

4 of 5 stars false
bookshelves: penulis-lokal, 2012, kumpulan-cerpen
Read in April, 2012 


 



11 kisah dalam satu buku
11 tokoh yg menghadapi ketakutannya masing-masing dan berdamai dengan kehilangannya

Membaca kumpulan cerpen ini akan menyadari bahwa sang penulis banyak melakukan detachment. Menurut Morrie, guru dari Mitch Albom, detachment adalah sebuah cara untuk menyelami sebuah perasaan. Dan yg diselami oleh penulis ini adalah sebuah perasaan yg disebut kehilangan.

Desi Puspitasari, menuangkan hasil detachmentnya ke dalam 11 cerita dalam buku ini. Disertai dengan kejeliannya dalam menggambarkan setting dan detail, kekayaan kosakata sehingga membuat dialog-dialognya terasa renyah dan tidak monoton, serta pengetahuannya dalam musik dan buku, yg membuat sepotong lirik menjadi dalam maknanya, membuat karya ini layak disebut masterpiece, terutama bagi yg sudah mengenal karya-karyanya sejak lama.

Dengan tipikal penulisan yg seperti ini, rasanya tidak percaya bahwa penulisnya adalah orang Indonesia.  


Link: Goodreads.

---



's review
Apr 27, 12

4 of 5 stars false
Read in April, 2012



Masa-masa kejayaan kumcer sepertinya waktu aku SMP, maksudnya aku sering banca kumcer waktu jaman itu. Semakin ke sini, selain jarang kumcer, aku jarang mengikuti perkembangannya.

Kumcer ini, khas mba desi. Kata-kata yang cerdas.Selain memilih lokasi di non-indonesia, baku-nya kata-kata yang dipilih mengingatkan pada novel asing.

I'm not a good reviewer, tapi kumcer ini bagus, dan ketahuan deh penulisnya menulis dengan pengetahuan yang baik :)
 Link: Goodreads.


---




's review
Apr 23, 12

4 of 5 stars false
bookshelves: personal-item
Read in April, 2012 

 
 



"Hidup sebenarnya hanyalah perkara kehilangan"

Begitulah potongan dialog dari cerpen Pukul Sebelas Malam, cerpen pertama dari kumpulan cerpen berjudul sama. Potongan dialog yang kalau boleh saya bilang menjadi ruh tersendiri bagi keseluruhan isi dari kumcer ini.

Pukul Sebelas Malam merupakan kumpulan cerpen pertama yang diterbitkan secara indie oleh Desi Puspitasari. Ada sebelas cerita dalam kumpulan cerpen ini. Tiga diantaranya sudah pernah dimuat di media cetak nasional, yakni Heute Herbst, La Vie, dan CLOS E.


Bagi mereka yang sudah cukup sering membaca karya-karya Desi Puspitasari, tentunya mengetahui kalau penulis yang satu ini memiliki gaya yang berbeda dari penulis muda yang lain. Kesukaannya pada luar negeri, jazz dan kopi merupakan beberapa ciri yang bisa saya tangkap. Selain itu, ide cerita yang tak biasa juga menjadi salah satu keunggulan dari penulis.

Dalam La Vie misalnya, penulis bercerita tentang Ange, seorang gadis muda yang terinfeksi virus HIV sebagai akibat dari hubungannya dengan sang kekasih. Ia tinggal sendiri di sebuah rumah. Setiap hari Tristan -sang kakak- datang menjenguk dan membawakannya makan. Setiap hari itu pula Angelie berkata kepada kakaknya bahwa ia ingin mati.

Jika La Vie bercerita tentang seorang gadis muda yang ingin mati, maka Ma bercerita tentang kenangan seorang anak atas ibunya. Seorang ibu yang semasa ia kecil memaksanya untuk les piano. Awalnya sang anak mengikuti permintaan ibunya tersebut. Sampai kemudian ia menemukan kenyataan sebenarnya dari alasan sang ibu memintanya untuk les piano.

Di Pacarku Hilang, penulis membawa kita sedikit bermain-main di dunia khalayan. Seorang penulis yang kehilangan pacarnya, mungkin itu hal yang biasa. Namun jika kemudian ia ditemukan di kolong tempat tidurnya, lalu kemudian sang pacar bercerita bahwa ia terperangkap di kolong tempat tidur itu selama berhari-hari, dan sanggup menyelesaikan sebuah novel tentu bukan lagi hal yang biasa.

Lalu ada juga Light My Fire. Dalam cerpen yang merupakan penutup dari kumcer ini, penulis secara sukses memberikan sedikit sentilan dari cerita tentang ayah dan anak ini. Sentilan yang disampaikan tanpa nada menggurui, malah berhasil membawa kita tersenyum membacanya. Dan bisa dibilang Light My Fire merupakan salah satu cerita favorit saya di kumcer ini.

Membaca sebelas cerpen yang terkumpul pada Pukul Sebelas Malam, sukses membawa saya pada berbagai cerita kehidupan. Ada yang bercerita tentang kehilangan, kegetiran, hingga harapan. Cover yang didesain dengan sederhana juga dengan pas mewakili warna dari cerita-cerita dalam kumcer ini.

Salutt!!  


Link: Goodreads


---



's review
Apr 10, 12




 

3 of 5 stars
bookshelves: kumcer
Read in April, 2012


Saya tertegun ketika membaca cerita-cerita yang disajikan dalam buku ini, ada nuansa khas Desi Puspitasari, yang seringkali membuat saya bertanya: Mengapa senantiasa memunculkan tokoh dan setting asing? Apakah ini simbolisasi dari alienasi, atau dalam bahasa Karl Marx disebut Entfremdung?

Mungkin orang lain memandangnya berbeda, tetapi saya menangkap ada semacam nuansa alienasi yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam cerita tersebut. Dalam konteks sosial, alienasi merupakan jarak yang timbul antara seseorang dengan masyarakat di sekelilingnya, yaitu manusia yang ‘memisahkan diri’ atau ‘terpisah’ dari kehidupan manusia lainnya. Namun dalam cerita ini, oleh para tokoh tersebut berusaha dicobadobrak--dicobacairkan dengan membuka hubungan dengan orang lain.

Ah, entahlah, mungkin saya terlalu serius membicarakan kumcer ini.

Selamat membaca!


Link: Goodreads
 ---


's review
Mar 23, 12

3 of 5 stars false 
Read in February, 2012 



 



"Hidup sebenarnya hanyalah mengenai perkara kehilangan." (hal 14)

Siapapun pernah mengalami kehilangan, kupikir. Apapun itu. Seperti halnya Thomas. Ia sepenuhnya paham bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang ia cintai. Makanya, ia coba membenamkan perasaan kehilangan tersebut dengan pergi ke bar setiap malam, setelah pemakaman Jedi –istrinya. Memesan bir dan menghabiskan sisa malamnya di sana. Selalu, setiap pukul sebelas malam.

Kebiasaan Thomas itu membuat Ros –pelayan bar– penasaran. Tidak seperti biasanya. Ros setidaknya selalu tahu masalah yang sedang merundung para pelanggannya. Tapi tidak dengan Thomas. Perlu usaha ‘lebih’ agar Thomas mau menceritakan apa masalahnya. Cerita kehilangan yang mengharukan. Tapi, bukankah hidup hanya melulu soal kehilangan? Seperti juga Ros yang ternyata memiliki kisah kehilangan yang sama. Mau tidak mau ia ceritakan juga kepada Thomas pada akhirnya.

Tentu saja, semua perasaan kehilangan akan menyisakan sesak di dada. Dengan sesak tersebut kita jadi tahu dan bisa merasakan apa dan bagaimana kehilangan tersebut. Sama seperti Katja saat menjelaskan apa dan bagaimana rasa bir kepada laki-laki Indonesia dalam Heute Herbst. Tak perlulah lelaki Indonesia itu mencicipi tetes demi tetes bir masuk ke kerongkongan untuk tahu bagaimana rasanya bir. Cukup dari penjelasan seorang Katja Heinenmann. (Hal 20)

Selebihnya isi buku ini bercerita tentang kehilangan. Sebelas cerita dalam buku ini memang berupaya menangkap arti sebuah kehilangan. Apiknya, kesebelas ceritanya tidak melulu terpaku pada makna kehilangan yang biasa: cinta pada pasangan. Tapi lebih luas lagi, yaitu kehilangan akan apa saja. Kasih sayang, semangat, kepedulian, kepekaan, pacar, kebebasan, sahabat, dan kerinduan. Bagian menarik lainnya adalah, ketika membaca satu per satu cerita dalam buku ini –bagi yang sering membaca buku terjemahan– akan mendapati suasana layaknya membaca cerita-cerita dengan susunan kalimat hasil terjemahan.

Tiga dari sebelas cerita pendek di buku ini pernah terbit di Koran Tempo Minggu –Heute Herbst, La Vie, dan Clos E.

Selamat membaca!


 Link: Goodreads

---



's review
Mar 24, 12

 
3 of 5 stars
bookshelves: kumcer
Read from March 22 to 24, 2012




Saya mengenal karya Desi Puspitasari awalnya hanya sebatas tulisan-tulisan di blognya. Kemudian beranjak ke cerpen-cerpen yang ia buat dan menemukan rasa tulisan yang sama seperti dalam blognya itu: mengalir dan tak terhentikan.

Dan kekhasan tulisannya itu masih saya temukan dalam kumcer ini.


Link: Goodreads



--- 


Tuesday, April 17, 2012

[Pukul Sebelas Malam] Sent on April 17th, 2012



These “Pukul Sebelas Malam”, I took them from the printing office in the morning, were already wrapped and sent to:






Those books will arrive between Friday (20.04.12) or Saturday (21.04.12).

Happy waiting and reading, then. (:




***

And thanks for March buying for mas Gatot, padhe GambarPatjoel, Yana, mba Nita Candra, Ziyy, Simbah, ibu Yulie (3 copies all at once), and Nesia.


***




Buku “Pukul Sebelas Malam” ini menggunakan sistem cetak Print by Order (cetak berdasar pesanan—atau umum disebut POD). Proses cetak 7 hari. Baru kemudian buku dikirim ke alamat pemesan. (I’m sorry for this ‘inconvenience’).


Harga buku Rp38.000,00 (belum termasuk ongkos kirim).



Untuk pembelian bisa melalui komen di jurnal ini, atau sms ke 0898 3400 272.


Trims! (:



***



p.s. For this book reviews, you can go to Goodreads’ reviews (please, click on the Goodreads link).


To read 3 of my short stories that ever been published in Koran Tempo Minggu; La Vie, Heute Herbst, and CLOS E, please click on the title link.